Di bagian utara desa Banjaran berbatasan dengan desa Pedurungan, sedangkan di bagian selatan berbatasan dengan desa Jebed. Di bagian barat desa Banjaran berbatasan dengan desa Banjardawa, sedangkan di bagian timur berbatasan dengan desa Sitemu.

Desa Banjaran di lewati oleh sebuah sungai yang cukup besar. Penduduk setempat menamakan sungai tersebut dengan nama kali Elon. Kali Elonmembagi desa Banjaran menjadi dua bagian, yaitu bagian barat dan bagian timur. Antara wilayah bagian barat dengan bagian timur desa Banjaran dihubungkan oleh sebuah jembatan kecil yang diresmikan sejak tahun 2000 oleh Bupati Pemalang saat itu yaitu Bpk. Munir. Di bagian barat merupakan wilayah yang banyak terdapat pemukiman penduduk, sedangkan di bagian timur merupakan areal yang mayoritas dijadikan perkebunan dan persawahan. Jenis perkebunan di bagian timur desa Banjaran sangat banyak macamnya, tetapi lebih didominasi oleh perkebunan Tebu. Hanya sedikit penduduk Desa Banjaran yang berada di bagian timur ini, yaitu penduduk Dusun Kranan.

Penduduk di desa Banjaran hampir seluruhnya memeluk agama Islam. Di desa Banjaran terdapat sebuah masjid yang menjadi pusat kegiatan agama Islam masyarakat. Masjid tersebut bernama masjid Baitul Mujahidin. Desa Banjaran banyak memiliki Alim Ulama. Hanya saja fungsi masjid ini sekarang dirasakan kurang optimal. Hanya kegiatan keagamaan seremonial seperti salat dan peringatan hari besar Islam saja yang diselenggarakan di masjid ini. Kegiatan semacam majelis ilmu rutin, majelis dzikir, kegiatan sosial dan pendidikan, misalnya, amat sangat jarang ditemui.

Bahasa sehari-hari masyarakat desa Banjaran adalah bahasa Jawa dialek Pemalang yang mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan dengan bahasa Jawa yang lainnya, bahkan dibanding desa sekitarnya. Bahasa Jawa dialek Pemalangan berbeda dalam beberapa hal dengan bahasa Jawa dialek Solo dan Bayumasan. Contoh dari bahasa yang dituturkan adalah “Koe pen aring ngendi? ” artinya ” Kamu mau kemana? “, “Nyong/ Aku pen dolan maring kanca” artinya “Aku mau main ke rumah teman”. Selain kata “Nyong” penduduk desa Banjaran juga biasa menggunakan kata “Aku” untuk menunjuk kata ganti orang pertama. Dilihat dari kedekatan kosakata dan cara pengucapan, bisa dikatakan bahwa dialek Pemalangan yang dipakai oleh penduduk Desa Banjaran adalah dialek Ngapak.

Sebagian besar mata pencaharian penduduk Desa Banjaran bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian. Selain itu banyak juga yang berprofesi sebagai pegawai negeri.